Post-Tragedy dari Kisah Romeo dan Hawa

Kisah percintaan dan tragedi adalah tema yang sejak jaman klasik sampai saat ini tak pernah habis dituliskan oleh penyair maupun penulis dalam karya-karyanya, sebut saja Romeo & Juliet, Layla – Majnun, Ramayana atau kisah asal mula kehidupan manusia di bumi, Adam-Hawa. Ada pertanyaan mendasar yang menuntut untuk dijawab, “Masih menarikkah tema tersebut untuk dituliskan di masa kini?” “Tidakkah akan terjadi keberulangan yang menjemukan?”

“Memang benar bahwa bagi penyair masa kini, jarak antara kisah percintaan dan tragedi yang telah dituliskan itu dihalangi oleh masterpiece – dipenuhi interpretasi, keseimbangan logika, intertekstualitas, hingga counterfactual, dari penyair sebelumnya, dan sebelumnya, lalu sebelumnya lagi. Apakah ini menandakan bahwa penyair masa kini terancam menulis sesuatu yang berulang? Tak ada darah yang mengalir dari tubuh untuk kedua kalinya seperti tidak ada tragedi yang terulang.

Barangkali inilah saatnya menghancurkan tragedi-tragedi itu – yang barangkali telah menjadi monumen ingatan dalam kepala kita. Beberapa tragedi berubah menjadi mitos atau folklor, sehingga sangkalan atau kritikan atas itu berarti menyeberangi batas ketabuan dan moral.

Jadi secara gagasan, seperti apa bentuk puisi post-tragedy yang dimaksud dalam tulisan ini?”

Sila simak diskusinya pada:

Hati/Tanggal: Jum’at, 24 Mei 2019
Jam: Pukul 20.00 – selesai
Tempat: @sajodo_cafe Jalan Anyelir Tulungrejo, Pare
Pemantik : Ibe S. Palogai (Penyair, 10 Besar Nominator Kusala Sastra Khatulistiwa Award 2018)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *